In Between Rhythm: Pameran Seni di Wovey Coffee Yogyakarta
Di tengah kehidupan yang semakin cepat, kapan terakhir kali kita benar-benar berhenti sejenak?
Rutinitas, pekerjaan, tuntutan produktivitas, dan derasnya informasi sering membuat kita terus bergerak tanpa sempat memahami apa yang sebenarnya sedang kita rasakan. Kita terbiasa mengejar waktu, menyelesaikan pekerjaan, dan memenuhi berbagai tuntutan kehidupan. Namun, terkadang kita lupa memberikan ruang bagi diri sendiri untuk beristirahat dan merenung.
Berangkat dari kegelisahan tersebut, In Between Rhythm hadir sebagai sebuah pameran seni rupa yang mengajak kita menemukan kembali arti sebuah jeda.
Diselenggarakan oleh Toto Sembodo di Wovey Coffee, Yogyakarta, pameran ini menghadirkan 15 karya dari para seniman yang mengangkat beragam pengalaman manusia, mulai dari tekanan kehidupan modern, persoalan lingkungan, perjalanan menghadapi ketakutan, hingga proses menerima dan mengembangkan diri.
Pameran ini berlangsung pada 30 Oktober hingga 30 November 2026, dengan pembukaan pada Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 16.00 WIB.
In Between Rhythm: Menemukan Ruang Jeda di Tengah Kesibukan
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menganggap bahwa waktu harus selalu diisi dengan aktivitas. Semakin sibuk seseorang, semakin sering kesibukan itu dianggap sebagai ukuran keberhasilan.
Padahal, kehidupan tidak hanya terdiri dari gerakan dan pencapaian. Ada kalanya kita membutuhkan waktu untuk berhenti, mengambil jarak, dan melihat kembali perjalanan yang sedang dijalani.
Inilah gagasan utama yang ingin disampaikan melalui In Between Rhythm.
Seperti sebuah irama musik yang tidak hanya dibentuk oleh bunyi, tetapi juga oleh jeda di antara setiap ketukan, kehidupan pun membutuhkan ruang untuk berhenti sejenak.
Jeda bukan berarti menyerah atau berhenti melangkah. Sebaliknya, jeda memberikan kesempatan bagi kita untuk memahami pengalaman, memulihkan energi, dan menemukan kembali arah kehidupan.
Melalui karya seni, para seniman mengajak pengunjung melihat berbagai persoalan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dari sudut pandang yang berbeda.
15 Seniman, 3 Tema, dan Beragam Cerita Kehidupan
Sebanyak 15 karya yang ditampilkan dalam In Between Rhythm dirangkum ke dalam tiga tema utama. Setiap tema menghadirkan cerita dan sudut pandang yang berbeda, tetapi saling terhubung melalui pengalaman manusia dalam menjalani kehidupan.
1. Kehidupan Modern, Keterasingan, dan Kerusakan Lingkungan
Tema pertama mengajak kita melihat kembali dampak kehidupan modern yang serba cepat.
Tuntutan untuk terus produktif, budaya konsumsi instan, dan eksploitasi alam menjadi beberapa persoalan yang diangkat melalui karya para seniman.
Karya You’re Not Busy. You’re Rotting dari Yeremia W.K.S, misalnya, mengajak kita mempertanyakan budaya kesibukan yang sering membuat manusia lupa pada kebutuhan dirinya sendiri.
Sementara itu, melalui karya Yummy, Yuli Meliana mengangkat kebiasaan konsumsi praktis yang ternyata menyisakan persoalan bagi kesehatan dan lingkungan.
Persoalan kerusakan hutan dan hilangnya ruang hidup juga hadir melalui karya Panglima Burung dari Aroufalbar, Fire that Threat dari Harits Geronimo, Dosa Apalagi Yang Kau Buat? dari Milo & Aziz, serta Where’s My Home? dari Alma Salsabila.
Karya-karya tersebut mengingatkan kita bahwa kemajuan dan kenyamanan hidup perlu berjalan berdampingan dengan kepedulian terhadap alam.
2. Belajar Menerima, Menghadapi Ketakutan, dan Melanjutkan Perjalanan
Tema kedua berbicara tentang pengalaman manusia dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Setiap orang memiliki perjalanan yang berbeda. Ada masa ketika kita merasa ragu, takut gagal, kehilangan arah, atau kesulitan menerima keadaan. Namun, pengalaman tersebut juga dapat menjadi bagian dari proses untuk mengenal diri sendiri.
Melalui Wind Flowers, Dimas Hussein menggambarkan kehidupan seperti bunga yang tumbuh, mekar, kemudian layu dan kembali tumbuh. Sebuah pengingat bahwa kebahagiaan maupun kesulitan tidak berlangsung selamanya.
Hendra May melalui Hasil Yang Terbaik mengajak kita untuk tetap mencintai apa yang sedang dijalani, termasuk ketika prosesnya tidak selalu nyaman.
Sementara itu, I’m Done karya Yasinta Laila berbicara tentang keberanian menghadapi keraguan dan ketakutan dalam diri. Adapun Nyuluh karya Phaksi Kharisma Dewa menghadirkan perjalanan menemukan harapan di tengah kegelapan dan ketidakpastian.
Melalui tema ini, pengunjung diajak memahami bahwa menerima keadaan bukan berarti berhenti berusaha. Terkadang, keberanian justru dimulai ketika kita bersedia menghadapi apa yang selama ini kita hindari.
3. Pertumbuhan Diri dan Menemukan Makna Baru
Tema ketiga mengangkat perjalanan manusia dalam memahami diri, melewati pengalaman sulit, dan menemukan makna baru dalam kehidupan.
Melalui Sacred Growth, Anang M menggambarkan bahwa sesuatu yang retak dan tidak sempurna tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh dan menemukan keindahannya sendiri.
Andriyani melalui karya batiknya, Perempuan Perunggu, menghadirkan gambaran tentang kekuatan dan ketangguhan perempuan dalam menghadapi berbagai tekanan kehidupan.
Kegembiraan dalam hal-hal sederhana menjadi pesan yang disampaikan Agapitus Ronaldo melalui And Joy With Me. Sementara itu, Rochmat Basuki melalui Rah-hayu mengangkat pertumbuhan manusia dan masyarakat melalui proses menghadapi konflik serta perubahan.
Karya Gadis Beranting Mutiara dari Rudi Hendriatno juga menawarkan pengalaman visual yang menarik. Melalui pergeseran lapisan gambar, pengunjung diajak melihat bahwa sebuah kenyataan dapat memiliki sudut pandang dan makna yang berbeda.
Kelima karya tersebut menghadirkan satu pemahaman bahwa pertumbuhan tidak selalu harus ditandai dengan pencapaian besar. Terkadang, pertumbuhan dimulai dari keberanian menerima diri, menghargai proses, dan menemukan kembali hal-hal sederhana yang memberi makna.
Seni Hadir Lebih Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Salah satu hal menarik dari In Between Rhythm adalah pilihan ruang pamerannya.
Jika selama ini pameran seni lebih sering diasosiasikan dengan galeri atau ruang pamer konvensional, kali ini karya-karya seni hadir di tengah suasana sebuah coffee shop.
Bertempat di Wovey Coffee, pengunjung dapat menikmati karya seni dalam suasana yang lebih santai dan terbuka. Seni tidak harus selalu dinikmati dalam ruang yang formal. Ia juga bisa hadir di tengah aktivitas sehari-hari, berdampingan dengan percakapan, secangkir kopi, dan pertemuan antarmanusia.
Bagi Wovey Coffee, kehadiran pameran ini merupakan bagian dari komitmen untuk menghadirkan pengalaman yang lebih luas bagi para pengunjung. Tidak hanya sebagai tempat menikmati kopi, Wovey Coffee juga ingin menjadi ruang pertemuan bagi berbagai gagasan, kreativitas, dan ekspresi seni.
Ke depannya, Wovey Coffee membuka ruang bagi kolaborasi dengan komunitas kreatif, termasuk komunitas seni mahasiswa, untuk menghadirkan pameran, kegiatan apresiasi seni, diskusi, dan berbagai aktivitas kreatif lainnya.
Melalui kegiatan seperti ini, Wovey Coffee berharap dapat membuka kesempatan bagi seniman dan komunitas untuk berbagi karya, membangun koneksi, serta menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat.
Kunjungi Pameran In Between Rhythm di Wovey Coffee
In Between Rhythm bukan sekadar pameran untuk melihat karya seni. Lebih dari itu, pameran ini merupakan undangan untuk mengambil jeda dari kesibukan, memahami pengalaman hidup, dan melihat kembali hal-hal yang mungkin selama ini terlewatkan.
Lima belas karya yang ditampilkan membawa beragam cerita tentang kehidupan, lingkungan, ketakutan, harapan, dan pertumbuhan diri.
Setiap pengunjung mungkin akan menemukan makna yang berbeda dari karya-karya tersebut. Bisa jadi ada satu karya yang terasa dekat dengan pengalaman pribadi, atau satu cerita yang membuat kita memandang sesuatu dengan cara yang baru.
Mari berkunjung dan menikmati pengalaman seni dalam suasana yang berbeda di Wovey Coffee, Yogyakarta.
Informasi Pameran
- Nama pameran: In Between Rhythm
- Penyelenggara: Toto Sembodo
- Lokasi: Wovey Coffee, Yogyakarta
- Periode pameran: 30 Oktober – 30 November 2026
- Pembukaan pameran: Jumat, 30 Oktober 2026, pukul 16.00 WIB
- Link Katalog Seni : KATALOG
Ambil jeda, nikmati karya, dan temukan kembali ritme kehidupanmu.
Sampai bertemu di Wovey Coffee.
Tentang Penulis
Renal Rinoza
Penulis esai kuratorial In Between Rhythm: Memberi Jarak, Merentang Jeda: Menavigasi Kemasygulan Kecepatan Hidup Kiwari.

